Selasa, 02 Juni 2026

Mengenal Sejarah BMW M Power, Simbol Kecepatan yang Mengubah Dunia

Mengenal Sejarah BMW M Power, Simbol Kecepatan yang Mengubah Dunia

Mengenal Sejarah BMW M Power, Simbol Kecepatan yang Mengubah Dunia
sumber : stratstone.com

Siapa yang tidak merinding mendengar raungan mesin inline-six khas Jerman saat melesat di jalan raya? Bagi para pencinta otomotif, logo tiga warna (biru, ungu, merah) yang bersanding dengan huruf "M" di bagasi belakang sebuah BMW bukan sekadar hiasan. Itu adalah tanda sakral.

Logo tersebut adalah simbol dari BMW M Power, sebuah divisi yang berhasil mengubah mobil harian yang nyaman menjadi monster lintasan balap. Namun, bagaimana awal mula divisi legendaris ini terbentuk? Mari kita bahas sejarah panjangnya dengan santai sambil ditemani secangkir kopi.

1. 1972: Lahirnya Sang Penakluk Lintasan Balap

BMW 3.0 CSL
sumber : iconicauctioneers.com

Kisah ini dimulai pada 1 Mei 1972. Saat itu, BMW menyadari bahwa mereka membutuhkan tim khusus yang fokus untuk memenangkan kejuaraan balap mobil dunia. Akhirnya, didirikanlah BMW Motorsport GmbH yang awalnya hanya digawangi oleh 35 orang kru berbakat di bawah pimpinan Jochen Neerpasch.

Proyek pertama mereka bukanlah mobil sport mewah yang dijual bebas, melainkan sebuah mobil balap murni bernama BMW 3.0 CSL.

Mobil ini dijuluki "Batmobile" karena sayap belakang dan paket aerodinamisnya yang sangat agresif mirip mobil pahlawan super. Menggunakan bahan aluminium yang super ringan, mobil ini langsung mendominasi kejuaraan European Touring Car Championship sepanjang era 1970-an. Di sinilah dunia mulai sadar bahwa racikan mekanik BMW Motorsport tidak bisa diremehkan.


2. BMW M1 (1978): Ketika Huruf "M" Resmi Turun ke Jalan Raya

BMW M1
sumber : wikipedia.org

Setelah sukses besar di sirkuit, BMW Motorsport berpikir: "Kenapa kita tidak membuat mobil super yang bisa dikendarai semua orang di jalan raya?"

Maka pada tahun 1978, lahirlah BMW M1 (E26) di ajang Paris Motor Show. Ini adalah tonggak sejarah penting karena M1 adalah mobil pertama yang secara resmi menyandang emblem "M".

Desainnya sangat eksotis dengan konsep mid-engine (mesin di tengah) berkat sentuhan desainer legendaris Giorgetto Giugiaro. Dibekali mesin 3.5L straight-six berkekuatan 273 horse power, M1 mampu melesat hingga 260 km/jam. Angka yang sangat fantastis di zamannya! Sayangnya, karena regulasi balap yang berubah dan masalah produksi, M1 hanya dibuat sebanyak 456 unit saja, menjadikannya salah satu buruan kolektor paling mahal saat ini.

3. Lahirnya Duo Legenda: M5 dan M3 yang Mengubah Dunia

BMW E30 M3
sumber : motor1.com

Kegagalan komersial M1 justru membuka jalan bagi strategi baru yang jauh lebih jenius. Dibandingkan membuat supercar mahal dari nol, mengapa tidak memasukkan mesin ganas murni dari sirkuit ke dalam bodi sedan harian yang biasa dipakai ke kantor?

BMW M5 E28 (1985)

Ide gila ini melahirkan BMW M5 pertama (generasi E28). Menggunakan basis sedan eksekutif Seri 5, para mekanik menyuntikkan mesin legendaris dari M1 ke dalamnya. Hasilnya? Lahirlah konsep Sleeper Car sejati—sebuah mobil keluarga berpenampilan kalem yang diam-diam bisa mempermalukan sportscar murni di jalur Autobahn.

BMW M3 E30 (1986)

Satu tahun kemudian, dunia diperkenalkan pada BMW M3 E30. Berbeda dengan M5 yang fokus pada kecepatan garis lurus, M3 E30 lahir murni demi memenuhi syarat regulasi balap turing (homologasi DTM).

Mobil ini menggunakan mesin 4 silinder yang sangat responsif, bodi yang dilebarkan (flared fenders), serta handling yang luar biasa tajam. M3 E30 sukses besar di lintasan balap dan di pasar komersial, menjadikannya fondasi utama dari nama besar nama "M3" yang kita kenal sekarang.

4. Evolusi dan Makna di Balik Logo Tiga Warna

Evolusi Logo BMW M
sumber : bmw-m.com

Pada tahun 1993, demi menyederhanakan nama dan memperkuat identitas brand, nama perusahaan secara resmi diubah menjadi BMW M GmbH. Produk mereka pun semakin meluas, tidak hanya memodifikasi mesin tetapi juga merombak total sektor suspensi, pengereman, aerodinamika, hingga interior.

Bicara soal BMW M, tentu tidak lepas dari strip tiga warna ikonik yang menempel pada logonya. Tahukah kamu apa arti warna-warna tersebut?

Biru: Merepresentasikan warna kebanggaan perusahaan BMW dan wilayah Bavaria, Jerman.

Merah: Melambangkan Texaco, merek oli raksasa asal Amerika yang menjadi mitra utama BMW di masa-masa awal balapan.

Ungu: Merupakan warna transisi atau jembatan yang memadukan warna biru dan merah, sekaligus melambangkan sinergi yang harmonis antara dunia balap dan mobil komersial.


5. Menghadapi Era Modern: Dari Turbocharger hingga Teknologi Hybrid

BMW i4 M50
sumber : thedrive.com

Memasuki era tahun 2010 ke atas, divisi M menghadapi tantangan berat akibat regulasi emisi global yang semakin ketat. Karakter awal mesin M yang terkenal dengan Naturally Aspirated (mesin tanpa turbo yang berputar hingga RPM sangat tinggi) terpaksa harus pensiun.

Banyak pencinta setiakanya sempat protes ketika generasi F80 M3 beralih menggunakan mesin Twin-Turbo. Namun, skeptisisme itu langsung sirna begitu mereka merasakan limpahan torsi instan yang luar biasa brutal. Divisi M terbukti sukses mempertahankan driving pleasure khas mereka tanpa mengorbankan performa.

Kini, inovasi mereka telah melangkah jauh lebih ekstrem. Kita bisa melihat monster Plug-in Hybrid seperti BMW XM atau varian berperforma tinggi elektrik murni seperti BMW i4 M50. Meski suaranya tidak lagi menggelegar seperti silinder mekanis konvensional, akselerasi instan yang ditawarkan membuktikan bahwa DNA balap M Power sama sekali tidak luntur ditelan zaman.

Kesimpulan

Perjalanan BMW M Power dari sebuah garasi balap kecil berisi 35 orang hingga menjadi salah satu kiblat mobil performa tinggi di dunia adalah bukti nyata dari dedikasi terhadap kecepatan. Mereka tidak sekadar menjual mobil bertenaga besar; mereka menjual sensasi berkendara, koneksi antara pengemudi dan aspal, serta sebuah warisan budaya otomotif yang tak ternilai harganya.

Bagi mereka, huruf "M" akan selalu memiliki satu arti yang mutlak: The Most Powerful Letter in the World.

Selasa, 12 Mei 2026

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 2

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 2

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 2
sumber : toyota.drive.place

Melanjutkan perjalanan panjang sang legenda, pada Part 2 kali ini penulis akan mengajak kalian masuk ke era yang sangat ikonik bagi orang Indonesia. Penulis akan memulai pembahasan dari kemunculan generasi ke-7 si "Great Corolla" yang masih jadi primadona hingga saat ini sampai ke generasi ke-12 yang menggunakan teknologi hybrid. Mari kita telusuri bagaimana Corolla berevolusi dari sedan keluarga yang nyaman menjadi ikon teknologi modern yang tetap bersaing di jalanan.

Sudah siap menjelajah waktu bersama Corolla? Baca ulasan lengkapnya di bawah dan pastikan kalian sudah membaca Part 1 agar tidak ketinggalan alur sejarahnya!

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 2


Corolla Gen-7 E100 (1991-1995)


Corolla E100
sumber : toyota.drive.place

Toyota Corolla generasi ketujuh yang lebih akrab disapa "Great Corolla" atau "Greco" di Indonesia, merupakan suksesor legendaris yang mengaspal antara tahun 1991 hingga 1995. Membawa kode rangka E100, mobil ini menandai transisi penting Corolla dari kategori mobil subcompact menjadi compact car yang lebih prestisius dan lega. Fakta unik yang menyertainya adalah reputasi mesin 4A-GE 20V di kancah global yang mengadopsi teknologi lima katup per silinder layaknya mobil sport Ferrari, menjadikannya incaran para tuner balap hingga saat ini. Di pasar lokal, PT. Toyota Astra Motor menghadirkan Greco dalam varian SE dan SE-G yang tercatat mengalami empat kali penyegaran tampilan minor (facelift) selama masa peredarannya, mempertegas statusnya sebagai sedan kelas menengah yang paling dicari pada masanya.

Dari sisi visual, Great Corolla membawa revolusi desain dengan meninggalkan guratan kaku dan kotak khas era sebelumnya menuju siluet yang lebih aerodinamis, membulat, dan tampak lebih "dewasa". Desainnya yang timeless dan sporty dirancang untuk memenuhi tuntutan pasar global yang menginginkan tampilan mewah namun tetap asyik dikendarai. Tidak hanya sekadar cantik secara estetika, dimensi bodi yang lebih luas ini memberikan keuntungan signifikan pada aspek ergonomi dan kelegaan kabin, sehingga mampu memberikan kenyamanan ekstra bagi penumpang. Penggunaan garis-garis lengkung yang halus pada eksteriornya terbukti sangat revolusioner, bahkan desain ini tetap terlihat relevan dan modern meski bersanding dengan kendaraan-kendaraan keluaran terbaru di jalan raya saat ini.

Mengintip ke balik kap mesin, Great Corolla di Indonesia dibekali dua opsi dapur pacu yang tangguh, yakni mesin 2E 1.300cc berkarburator untuk tipe SE (yang kemudian ditingkatkan pada tahun 1994) serta mesin 4A-FE 1.600cc DOHC dengan sistem Electronic Fuel Injection (EFI) untuk tipe SE-G. Teknologi injeksi ini menjadi lompatan besar dalam hal efisiensi bahan bakar dan keandalan performa jika dibandingkan generasi terdahulu. Untuk mendukung pengendalian, Toyota menyempurnakan sektor kaki-kaki menggunakan suspensi MacPherson empat titik di depan dan enam titik di belakang yang dikombinasikan dengan trek roda lebih lebar guna meningkatkan stabilitas di kecepatan tinggi. Kehadiran rem cakram berventilasi (ventilated disc brake) juga memastikan sistem pengereman yang lebih optimal, menjadikan Greco sebagai perpaduan sempurna antara durabilitas mesin dan kenyamanan berkendara yang mumpuni.


Corolla Gen-8 E110 (1995-2001)


Corolla E110
sumber : toyota.drive.place

Memasuki pertengahan era 90-an, tepatnya pada tahun 1995, Toyota menghadirkan babak baru melalui Corolla generasi kedelapan yang di Indonesia populer dengan sebutan New Corolla dan All New Corolla (AE111/AE112). Fakta unik yang membedakan era ini dengan sebelumnya adalah keputusan Toyota untuk mulai memisahkan desain unit berdasarkan target pasar global, seperti varian Liftback yang khusus untuk Eropa sementara pasar Asia mengikuti garis desain Jepang yang lebih elegan. Di masanya, sedan compact ini menyandang predikat sebagai mobil dengan fitur keamanan dan kenyamanan paling komprehensif di kelasnya, mengungguli para kompetitor melalui penyematan teknologi yang sebelumnya hanya ada di segmen mewah.

Dari sisi estetika, desain Corolla generasi kedelapan ini merupakan evolusi cerdas yang tetap mempertahankan siluet khas pendahulunya (E100), namun dengan sentuhan yang lebih modern dan fungsional. Perubahan paling mencolok pada unit pasar Tanah Air terlihat pada bagian pencahayaan, di mana lampu depan (headlamp) kini dibuat terpisah dari grille, serta lampu belakang (stoplamp) yang bertransformasi dari desain pipih memanjang menjadi bentuk yang lebih tegas dan mengotak. Tersedia dalam varian XLi, SE-G, hingga tipe eksklusif S-Cruise, mobil berkode bodi AE111 ini berhasil memadukan kesan sedan mewah dengan dimensi yang tetap lincah untuk penggunaan perkotaan.

Sektor dapur pacu dan teknologi menjadi poin utama efisiensi yang ditawarkan Toyota pada seri ini. Untuk pasar Indonesia, awalnya Corolla dibekali mesin seri 4A-FE 1.600 cc, sebelum akhirnya mendapatkan update signifikan pada model facelift tahun 1998 dengan mesin 7A-FE berkapasitas 1.800 cc yang lebih bertenaga. Kecanggihan teknologi sangat terasa melalui hadirnya fitur Variable Timing Wiper, sistem pengereman ABS, hingga penggunaan Dual Airbag untuk proteksi maksimal. Selain itu, inovasi penggunaan material aluminium pada blok mesin dan kepala silinder (khusus mesin 1ZZ-FE di pasar global) membuat bobot kendaraan menjadi lebih ringan, sehingga menghasilkan performa yang lebih responsif sekaligus konsumsi bahan bakar yang lebih irit dibandingkan generasi sebelumnya.

Corolla Gen-9 E120-E130 (2000-2006)


Corolla E130
sumber : wikipedia.org

Memasuki milenium baru pada tahun 2001, Toyota melakukan langkah revolusioner dengan meluncurkan generasi kesembilan yang kini menyandang nama tambahan yaitu "Altis". Fakta unik di balik kemunculan era ini adalah keputusan strategis Toyota untuk menaikkan kelas Corolla dari sedan kompak keluarga menjadi sedan mewah, guna memberi ruang bagi Toyota Vios di segmen di bawahnya. Meskipun sempat muncul spekulasi mengenai penghapusan nama Corolla, Chief Engineer Takeshi Yoshida bersikeras mempertahankannya karena reputasi globalnya yang kuat, sehingga lahirlah konsep "New Century Value" yang membawa citra Corolla ke level yang jauh lebih eksklusif.

Secara visual, desain Corolla Altis mengalami perubahan radikal yang sering disebut sebagai fase "reborn" karena meninggalkan kesan konservatif. Dimensi bodinya bertambah besar, baik dari segi panjang maupun lebar, memberikan tampilan yang lebih gagah, aerodinamis, dan elegan dibandingkan pendahulunya. Perubahan estetika yang paling mencolok terlihat pada lampu depan yang tidak lagi sekadar mengotak, melainkan mengadopsi desain membulat yang modern. Di Indonesia, model ini hadir dalam dua fase utama, yaitu versi awal (2001-2003) dan versi facelift (2004-2007) yang membawa pembaruan pada grille, velg, hingga lampu belakang, serta varian Limited Edition yang tampil mewah dengan jok kulit dan logo berwarna emas.

Dari sisi teknis, Corolla Altis mengandalkan mesin tangguh berkode 1ZZ-FE berkapasitas 1.800 cc yang telah mengadopsi teknologi katup variabel VVT-i untuk efisiensi dan tenaga yang lebih responsif. Lompatan teknologi pada generasi ini sangat signifikan, terutama dengan hadirnya panel AC digital dan aksen kayu pada interior yang memperkuat kesan premium. Sektor keselamatan pun menjadi prioritas utama Toyota dengan menyematkan fitur melimpah di kelasnya, mulai dari Dual SRS Airbag, sistem pengereman ABS, hingga penggunaan rem cakram di keempat roda. Pada model tertentu di pasar global, generasi ini bahkan menjadi pionir dalam penggunaan fitur Vehicle Stability Control (VSC) dan Traction Control, membuktikan bahwa Altis bukan sekadar sedan bergaya, melainkan kendaraan dengan standar keamanan tinggi.

Corolla Gen-10 E140-E150 (2006-2013)


Corolla E150
sumber : toyota.drive.place

Memasuki periode 2006 hingga 2013, Toyota memperkenalkan generasi kesepuluh dari lini legendarisnya yang di Asia Tenggara lebih dikenal dengan nama Grand New Corolla Altis (E140). Fakta unik pada generasi ini adalah diferensiasi penamaan dan spesifikasi yang semakin tajam antar wilayah, seperti nama "Corolla Axio" untuk pasar domestik Jepang, sementara pasar Indonesia mendapatkan versi bodi yang lebih lebar dan gaya yang berbeda. Meskipun pada masa ini pamor sedan mulai bersaing ketat dengan tren MPV keluarga, Corolla generasi ke-10 tetap mencatatkan sejarah penting sebagai mobil Toyota pertama di Indonesia yang mengusung fitur Smart Entry Keyless, sebuah terobosan mewah yang kala itu sangat prestisius di kelasnya.

Secara visual, desain Grand New Corolla Altis bertransformasi dengan pendekatan yang lebih dinamis dan elegan tanpa meninggalkan kesan premium. Toyota sengaja merancang eksteriornya agar tidak hanya memikat kalangan menengah ke atas, tetapi juga menarik minat para eksekutif muda melalui garis desain yang lebih sporty dan modern. Di pasar nasional, mobil ini hadir dalam beberapa varian, mulai dari tipe J sebagai entri, tipe G untuk kelas menengah, hingga tipe V sebagai kasta termewah. Pada tahun 2010, Toyota memberikan penyegaran (facelift) pada sisi eksterior untuk menjaga penampilannya tetap kompetitif di tengah berkembangnya tren otomotif global.

Sektor performa dan kenyamanan menjadi keunggulan utama berkat penggunaan teknologi dapur pacu yang mutakhir. Untuk pasar Indonesia, tersedia dua pilihan mesin bertenaga, yakni 1.8L (2ZR-FE) dan 2.0L (3ZR-FE) yang keduanya sudah mengadopsi teknologi Dual VVT-i. Tenaga tersebut disalurkan melalui sistem transmisi manual 6-percepatan atau otomatis Super CVT 7-percepatan yang sangat tangguh dan halus. Selain tenaga yang melimpah, kenyamanan kabin pun ditingkatkan secara signifikan melalui penerapan fitur Noise Vibration Harshness (NVH) yang membuat kabin jauh lebih senyap. Paket keselamatan yang ditawarkan juga sangat lengkap, mencakup Airbags, pengereman ABS dengan Electronic Brake Distribution (EBD), hingga Cruise Control untuk pengalaman berkendara yang lebih stabil dan aman.


Corolla Gen-11 E160-E170 (2013-2019)


Corolla E170
sumber : toyota.drive.place

Diluncurkan pertama kali secara global pada akhir 2013 dan masuk ke pasar Indonesia pada 2014, Corolla generasi kesebelas membawa perubahan paradigma yang cukup mengejutkan dalam sejarah panjangnya. Fakta unik yang paling menonjol adalah keputusan Toyota untuk memangkas dimensi panjang mobil hingga 50 mm, sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam regenerasi model. Keputusan ini diambil untuk mengembalikan esensi Corolla sebagai kendaraan kompak yang user-friendly dan lincah, setelah dua generasi sebelumnya cenderung berfokus pada dimensi lebar. Selain itu, era ini menjadi tonggak sejarah baru di pasar global dengan diperkenalkannya varian hybrid ke dalam jajaran model Corolla untuk pertama kalinya.

Dari sisi estetika, Corolla generasi ke-11 ini mengadopsi bahasa desain "Keen Look" yang membuat tampilannya jauh lebih berani dan tajam dibandingkan para pendahulunya. Karakter sporty sangat terasa melalui penggunaan grille yang menyatu dengan lampu depan berdesain sipit, memberikan kesan agresif sekaligus modern. Perubahan model secara menyeluruh ini seolah menghidupkan kembali sisi dinamis Corolla yang sempat tertutup oleh citra konservatif. Interiornya pun mendapatkan penyegaran teknologi yang signifikan, dengan penyematan fitur-fitur canggih seperti cruise control, unit layar sentuh yang interaktif, serta sistem climate control otomatis untuk kenyamanan maksimal di dalam kabin.

Di balik kap mesinnya, Toyota mengandalkan mesin 2ZR-FE berkapasitas 1.798 cc yang telah dilengkapi dengan teknologi Dual VVT-i terbaru. Salah satu fitur unggulannya adalah hadirnya Sport Drive Mode, yang memungkinkan pengemudi merasakan lonjakan tenaga yang lebih responsif dan bertenaga sesuai kebutuhan. Fokus Toyota pada generasi ini sangat berat pada aspek keselamatan, di mana mereka memberikan perlindungan komprehensif melalui tujuh buah airbag, Vehicle Stability Control (VSC), serta Emergency Brake Signal (EBS). Ketangguhan performanya pun didukung oleh sistem kaki-kaki yang mumpuni, menggunakan kombinasi suspensi MacPherson Strut di depan dan Torsion Beam di belakang, yang dirancang khusus untuk meredam getaran secara optimal di berbagai kondisi jalan.

Corolla Gen-12 (2018 – sekarang)


Corolla E210
sumber : toyota.drive.place

Memasuki tahun 2018, Toyota memulai babak paling inovatif dalam sejarah Corolla melalui peluncuran generasi kedua belas yang menandai pergeseran besar menuju teknologi ramah lingkungan. Fakta unik yang paling mengejutkan dari era ini adalah keberanian Toyota melakukan ekspansi radikal dengan menghadirkan model Corolla Cross pada tahun 2020, sebuah format SUV/Crossover yang memanfaatkan nama besar Corolla untuk menyasar pasar yang kini lebih menyukai mobil berpostur tinggi. Di Indonesia sendiri, model sedan resmi mengaspal pada September 2019 dengan nama All New Corolla Altis, yang sekaligus menjadi lini pertama dalam sejarahnya di Tanah Air yang menawarkan varian mesin bertenaga listrik atau hybrid secara resmi.

Dari sisi estetika, Corolla generasi terbaru ini dibangun di atas platform TNGA (Toyota New Global Architecture) yang revolusioner, memungkinkan desain bodi yang lebih aerodinamis dengan titik gravitasi lebih rendah. Interiornya kini bertransformasi menjadi sangat elegan dengan dominasi warna hitam yang modern, menggantikan nuansa krem pada model-model lawas untuk memberikan kesan premium yang lebih kuat. Secara eksterior, desainnya terlihat lebih agresif dengan bahasa desain global yang dinamis, baik untuk varian sedan, hatchback yang dikenal sebagai Corolla Sport di Jepang, hingga varian station wagon. Kabinnya pun telah ditingkatkan dengan konektivitas mutakhir seperti Apple CarPlay dan Android Auto, serta antarmuka yang lebih ramah pengguna untuk mendukung gaya hidup konsumen masa kini.

Sektor dapur pacu dan teknologi menjadi sorotan utama melalui pengenalan sistem Hybrid 2ZR-FXE berkapasitas 1.800cc yang menggunakan sistem Atkinson cycle. Teknologi ini diklaim jauh lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan mampu menekan emisi gas buang hingga 60% dibandingkan mesin konvensional berkat dukungan motor listrik yang bekerja secara aktif. Selain varian hybrid, tersedia juga mesin bensin 2ZR-FE yang tetap menawarkan akselerasi responsif melalui transmisi CVT 7-percepatan. Aspek keselamatan pun naik kelas dengan hadirnya Toyota Safety Sense (TSS), yang mencakup fitur-fitur canggih seperti Pre-Collision System (PCS), Adaptive Cruise Control, hingga Lane Departure Alert, menjadikan Corolla generasi ke-12 ini sebagai salah satu kendaraan paling aman dan cerdas di kelasnya.

Penutup


Sebagai penutup perjalanan panjang kita, terlihat jelas bahwa evolusi Toyota Corolla dari generasi ke-7 hingga ke-12 bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan bukti konsistensi Toyota dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan zaman. Mulai dari era "Great Corolla" yang ikonik hingga teknologi Hybrid dan platform TNGA yang futuristik, Corolla sukses mempertahankan gelarnya sebagai raja sedan yang andal, aman, dan berkelas. Warisan sejarah ini membuktikan bahwa Corolla lebih dari sekadar kendaraan; ia adalah saksi perkembangan teknologi otomotif dunia yang terus melaju ke depan.

Dari generasi ke-7 hingga ke-12, mana yang jadi favorit atau punya kenangan manis buat Anda? Tulis pendapat Anda di kolom komentar dan bagikan artikel ini ke komunitas otomotif Anda agar diskusi semakin seru!

Terima kasih sudah berkunjung 😁

Sabtu, 11 April 2026

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 1

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 1

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi Part 1
sumber : toyota.drive.place

Ketika mendengar kata "Corolla" pasti yang terbesit di pikiran adalah lini mobil legendaris dari Toyota yang masih eksis hingga sekarang. Nama "Corolla" sendiri memiliki arti mahkota kecil yang diambil dari bahasa latin. Toyota Corolla memulai debutnya di dunia otomotif mulai tahun 1966. Sejauh ini sudah terjual 50 juta lebih unit Toyota Corolla di seluruh dunia sampai pada model Corolla Cross. Bahkan, pada tahun 1997 Toyota Corolla menjadi mobil yang penjualannya paling laris di dunia.

Dari tahun 1966 hingga postingan ini diterbitkan Toyota Corolla sudah memiliki 12 generasi dengan berbagai layout dari sedan, liftback, hatchback, wagon dan yang paling baru adalah SUV. Nah, pada kali ini penulis akan mengajak kalian berkenalan dengan Toyota Corolla dari generasi ke generasi di bawah ini.

Yuk, Mengenal Toyota Corolla Dari Generasi ke Generasi (Part 1)


Corolla Gen-1 (KE10-1966-1970)


Corolla E10
sumber : toyota-automobile-museum.jp

Sejarah besar dimulai pada tahun 1966 ketika Toyota meluncurkan Corolla generasi pertama sebagai bentuk pembuktian diri kepada dunia otomotif internasional. Di tengah tren produsen mobil yang kala itu rata-rata menggunakan mesin 1.000cc, Toyota tampil ambisius dengan menyematkan kapasitas 1.100cc untuk memberikan performa yang lebih unggul. Fakta menarik dari generasi ini adalah kegigihan Toyota dalam menembus pasar ekspor, dimulai dari Australia pada tahun 1966 hingga Amerika Serikat pada 1968. Sayangnya, bagi para pecinta mobil klasik di tanah air, Indonesia tidak masuk dalam daftar distribusi resmi untuk generasi pertama ini, sehingga unit yang ada saat ini biasanya merupakan koleksi langka hasil impor khusus atau perpindahan tangan antar-negara.

Dari sisi tampilan, Corolla generasi pertama mengusung konsep desain semi-fastback yang mencerminkan estetika sedan kelas dunia di masanya. Karakter klasiknya sangat kuat berkat penggunaan lampu depan bulat yang ikonik, fender yang tampak menonjol, serta posisi spion unik yang terletak di atas kap mesin atau fender mirrors. Masuk ke area interior, meski terlihat minimalis menurut standar modern, mobil dengan kode bodi KE10 (sedan), KE15 (coupe), dan KE16 (wagon) ini sudah dilengkapi fitur mewah di zamannya seperti radio, pemanas (heater), sandaran tangan, dan console box. Standar keselamatan pun mulai diperkenalkan melalui penggunaan sabuk pengaman, menandai awal kepedulian Toyota terhadap aspek keamanan pengemudi.

Sektor dapur pacu dan teknologi menjadi fokus utama Toyota dalam menghadirkan pengalaman berkendara yang responsif melalui mesin seri K berkapasitas 1.100cc dengan pasokan bahan bakar karburator. Untuk mengimbangi tenaga 60 HP yang dihasilkan, Toyota melakukan terobosan berani dengan menerapkan suspensi MacPherson Strut pada bagian depan—teknologi yang sangat canggih saat itu hingga membutuhkan waktu riset selama 2,5 tahun untuk mendapatkan setelan yang sempurna. Menjelang akhir masa produksinya pada tahun 1970, Corolla ini mendapatkan versi facelift dengan peningkatan kapasitas mesin menjadi 1.200cc serta pilihan transmisi yang beragam, mulai dari otomatis 2-percepatan hingga manual 4-percepatan dengan tuas di lantai maupun di kolom setir.

Corolla Gen-2 KE20 (1970-1974)


Corolla E20
sumber : wikipedia.org

Toyota Corolla generasi kedua, yang diperkenalkan secara global pada tahun 1970, memegang peranan krusial sebagai pionir keluarga Corolla di pasar otomotif Indonesia. Mobil ini memiliki fakta unik dengan julukan "Corbet" atau Corolla Betawi, sebuah nama yang lahir karena popularitasnya yang luar biasa di kalangan warga Jakarta serta perannya sebagai armada taksi ikonik di ibu kota pada masanya. Selain menjadi primadona lokal, ketangguhan dan durabilitas mobil ini diakui secara internasional dengan distribusi luas ke berbagai benua seperti Eropa, Amerika, hingga Afrika. Berkat reputasi keandalannya, Corolla generasi kedua sukses mencatatkan sejarah sebagai mobil terlaris kedua di dunia, menjadikannya salah satu simbol kesuksesan Toyota dalam merajai segmen sedan ekonomis secara global.

Dalam aspek desain, generasi kedua ini tampil dengan transformasi visual yang lebih modern melalui garis bodi yang cenderung membulat jika dibandingkan dengan pendahulunya. Meski tetap mempertahankan kesan kompak, Toyota merancang mobil ini dengan fokus utama pada peningkatan kenyamanan ruang kabin dan pengalaman berkendara yang lebih berkualitas. Di pasar internasional, Corolla ini hadir dalam berbagai varian model mulai dari sedan, coupe, hingga wagon, namun untuk pasar Indonesia, Toyota secara khusus hanya menghadirkan model sedan empat pintu yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan konsumen saat itu. Perubahan estetika ini tidak hanya mengejar penampilan, tetapi juga aspek ergonomis yang membuat pengemudi merasa lebih betah di balik kemudi.

Performa mesin menjadi salah satu keunggulan utama yang membuat Corolla generasi kedua begitu dicintai. Pada awal peluncurannya, mobil ini dipersenjatai mesin seri 3K berkapasitas 1.200cc yang sanggup menghasilkan tenaga 68 HP dan torsi 93 Nm, dengan dukungan tangki bahan bakar sebesar 45 liter untuk efisiensi perjalanan jauh. Untuk memberikan pilihan tenaga yang lebih besar, Toyota kemudian memperkenalkan mesin 1.600cc pada tahun 1971 yang mampu memuntahkan tenaga hingga 106 HP. Seluruh tenaga tersebut disalurkan melalui transmisi manual 4 percepatan atau opsi transmisi otomatis yang inovatif di zamannya. Kombinasi teknologi mesin yang bandel dan perawatan yang mudah membuat Corolla ini tetap menjadi incaran para kolektor mobil antik hingga hari ini.

baca juga : Mengenal Nissan Silvia 270R Nismo, Tipe Nissan Silvia Paling Langka Yang pernah Ada

 

Corolla Gen-3 KE30-KE60 (1974-1979)


Corolla E30
sumber : wikipedia.org

Lahir pada tahun 1974, Toyota Corolla generasi ketiga muncul sebagai jawaban cerdas atas krisis energi global yang menuntut kendaraan hemat bahan bakar. Di Indonesia, mobil ini memiliki tempat spesial di hati para kolektor dengan julukan unik "Corvet" atau Corolla Veteran, sebuah nama warisan setelah generasi sebelumnya populer dengan sebutan "Corbet" (Corolla Betawi). Keberhasilan model ini di pasar internasional sangat fenomenal, dengan total penjualan menembus angka 3,7 juta unit. Salah satu fakta unik di balik kesuksesannya adalah dedikasi Chief Engineer Sasaki yang secara khusus meriset ukuran papan selancar untuk merancang varian liftback, guna memastikan ruang bagasi yang praktis namun tetap memiliki gaya yang sporty dan fungsional bagi gaya hidup anak muda kala itu.

Secara visual, desain Corolla generasi ketiga mengalami evolusi yang signifikan dengan dimensi bodi yang lebih besar dan garis yang cenderung lebih membulat atau lancip dibandingkan model sebelumnya. Meskipun bobotnya bertambah, Toyota mengakali efisiensi konsumsi bahan bakar melalui penerapan kaca depan yang lebih landai hasil dari pengujian wind tunnel (terowongan angin) yang ketat. Masuk ke bagian interior, nuansa mewah sangat terasa berkat penggunaan material padding pada dasbor dan tata letak tombol kontrol yang lebih ergonomis dan terpusat. Tak hanya soal tampilan, aspek keselamatan pun mulai menjadi standar utama dengan hadirnya struktur bodi penyerap benturan (crumple zone) serta penggunaan sabuk pengaman tiga titik otomatis yang memberikan perlindungan lebih bagi pengemudi dan penumpang.

Di sektor dapur pacu, Toyota tetap mengandalkan mesin seri 3K berkapasitas 1.200cc untuk varian dua pintu, serta mesin 1.600cc untuk versi empat pintu yang lebih bertenaga. Performa mesin tersebut didukung oleh pilihan transmisi manual 4 dan 5 percepatan, serta transmisi otomatis 3 percepatan yang cukup modern di zamannya. Salah satu lompatan teknologi paling krusial pada generasi ini adalah pengaplikasian catalytic converter, sebuah inovasi ramah lingkungan yang membuat penjualannya meledak karena mampu memenuhi standar emisi yang mulai ketat. Kombinasi antara mesin yang andal, teknologi suspensi yang lebih stabil, dan fokus pada efisiensi aerodinamika menjadikan Corolla generasi ketiga ini sebagai salah satu tonggak sejarah kesuksesan Toyota dalam merajai pasar sedan ekonomis dunia.

Corolla Gen-4 KE70 (1979-1983)


Corolla E70
sumber : wikipedia.org

Toyota Corolla DX, atau yang secara global dikenal sebagai Corolla generasi keempat dengan kode bodi KE70, merupakan salah satu sedan paling ikonik yang pernah mengaspal di Indonesia sejak tahun 1979. Keunikan utama mobil ini terletak pada penamaannya; meski di pasar internasional memiliki banyak varian, di Indonesia hanya trim level "DX" yang resmi dipasarkan sehingga nama tersebut melekat kuat sebagai identitas lokal yang melegenda. Selain menjadi buruan utama para kolektor mobil lawas, fakta menarik lainnya adalah Corolla DX merupakan generasi terakhir Corolla di Indonesia yang menggunakan sistem penggerak roda belakang (Rear Wheel Drive), menjadikannya primadona di dunia balap retro dan drifting hingga saat ini.

Beralih ke sisi estetika, Corolla DX membawa perubahan desain revolusioner di bawah arahan desainer Fumio Agetsuma dengan meninggalkan kesan bulat era 70-an menuju tampilan serba kotak yang tegas dan maskulin. Perubahan desain ini tidak hanya terlihat pada bodi yang lebih melar dan lampu utama yang ikonik, tetapi juga merambah ke bagian interior yang lebih mewah karena mengadopsi material dashboard serta kursi dari Toyota Celica Camry. Ruang kabin dirancang lebih lapang dan sangat fokus pada pengemudi (driver oriented), lengkap dengan fitur kenyamanan seperti kursi yang dapat diatur kemiringannya serta headrest yang bisa disesuaikan tingginya, sebuah standar kemewahan sedan menengah pada zamannya.

Dapur pacu Toyota Corolla DX dipersenjatai oleh mesin seri 4K-U OHV 8 valve berkapasitas 1.300cc yang mampu memproduksi tenaga 75 HP dan torsi 105 Nm, yang dikenal sangat tangguh serta mudah dalam perawatan. Teknologi suspensi menjadi lompatan besar pada generasi ini, di mana penggunaan model pegas ulir (coil spring) menggantikan per daun, sehingga memberikan bantalan yang jauh lebih empuk dan stabil saat berkendara. Tenaga mesin tersebut disalurkan melalui transmisi manual 4 atau 5 percepatan, serta pilihan transmisi otomatis yang pada tahun 1982 mendapatkan peningkatan teknologi menjadi 4 percepatan, mempertegas posisi Corolla DX sebagai mobil yang menggabungkan durabilitas mesin klasik dengan kenyamanan teknologi modern di masanya.

Corolla Gen-5 E80 (1983-1987)


Corolla E80
sumber : toyota.drive.place

Toyota Corolla generasi kelima, yang resmi meluncur pada tahun 1983, menjadi tonggak sejarah paling revolusioner karena untuk pertama kalinya beralih menggunakan sistem penggerak roda depan (FWD). Di Indonesia, model ini sangat dikenal dengan sebutan Toyota Corolla GL dan hadir sebagai sedan yang menawarkan kenyamanan serta efisiensi ruang kabin yang lebih baik dibandingkan para pendahulunya. Fakta unik yang paling mendunia dari generasi ini adalah eksistensi varian coupe AE86 atau "Hachi-Roku", yang tetap mempertahankan penggerak roda belakang (RWD) dan menjadi bintang dalam budaya pop Jepang lewat anime Initial D. Meski di Indonesia popularitas Corolla GL sempat dibayangi oleh kesuksesan Corolla DX, namun model ini tetap dianggap sebagai pionir modernisasi Toyota yang mulai mengadopsi teknologi berbasis komputer.

Memasuki aspek estetika, Corolla GL masih mengusung bahasa desain bodi mengotak yang populer di era 80-an, namun dengan sentuhan yang jauh lebih rapi, aerodinamis, dan tampak "cantik". Toyota secara khusus merancang eksterior mobil ini dengan target pasar anak muda, yang terlihat dari garis bodi yang lebih mengalir serta desain lampu depan dan belakang yang lebih modern. Perubahan desain yang paling krusial justru terjadi pada struktur dasarnya; penggunaan layout mesin melintang dan penggerak roda depan secara dramatis meningkatkan kelegaan interior. Tanpa adanya terowongan transmisi yang besar di bawah kabin, penumpang dapat menikmati ruang kaki yang lebih luas, menjadikan pengalaman berkendara terasa lebih mewah dan nyaman untuk sebuah sedan kompak di masanya.

Dapur pacu Toyota Corolla GL di Indonesia terbagi dalam dua periode utama, yakni penggunaan mesin berkode 2A kapasitas 1.300cc pada edisi 1983-1985, yang kemudian digantikan oleh mesin 2E yang lebih bertenaga pada versi facelift tahun 1985 hingga 1987. Teknologi yang disematkan pun melonjak drastis dengan mulai dikenalkannya sistem injeksi bahan bakar terkomputerisasi serta pilihan transmisi manual 5 percepatan dan otomatis 4 percepatan. Di kancah internasional, generasi kelima ini juga memperkenalkan varian mesin legendaris 4A-GE 1.6L DOHC yang sangat bertenaga serta unit mesin diesel 1C 1.8L. Inovasi teknologi mesin yang lebih presisi serta penggunaan suspensi yang lebih empuk mempertegas posisi Corolla generasi kelima sebagai kendaraan yang efisien tanpa mengorbankan performa dan kenyamanan berkendara.


Corolla Gen-6 E90 (1987-1991)


Corolla E90
sumber : toyota.drive.place

Toyota Corolla generasi keenam, yang lebih dikenal dengan kode bodi E90, resmi mengaspal di Indonesia pada rentang tahun 1987 hingga 1991 dan langsung menyabet gelar sebagai salah satu sedan paling ikonik. Menariknya, mobil ini lebih populer dengan julukan "Corolla Twincam" karena promosi teknologi camshaft ganda yang diusungnya, meskipun terdapat fakta unik bahwa varian terendahnya, tipe SE, sebenarnya tidak menggunakan mesin twin cam melainkan SOHC. Di pasar lokal, Toyota Astra Motor menghadirkan beberapa pilihan menarik mulai dari tipe SE, SE Limited, hingga varian Liftback 5-pintu yang sporty. Namun, kasta tertinggi yang paling diburu kolektor saat ini adalah tipe GTi, sebuah unit langka yang memiliki performa mesin luar biasa dan sering kali menjadi "harta karun" dalam kondisi orisinal di komunitas seperti Corolla Twincam Indonesia (CTI).

Beralih ke sisi estetika, di bawah arahan insinyur utama Akihiko Saito, Corolla E90 tampil dengan evolusi desain yang lebih membulat, lebih rendah, dan lebih lebar dibandingkan generasi sebelumnya yang kaku. Perubahan dimensi ini menciptakan siluet yang lebih dinamis dan aerodinamis, sekaligus memberikan dampak positif pada ruang kabin yang menjadi jauh lebih lega. Interiornya pun mengalami peningkatan kualitas secara masif dengan penggunaan material peredam suara yang lebih baik, sehingga menciptakan kenyamanan berkendara yang lebih senyap. Tidak hanya model sedan dan liftback saja yang beredar, secara eksklusif terdapat pula model wagon yang masuk melalui jalur perorangan, menambah keberagaman desain keluarga E90 yang tetap terlihat modis meski usianya telah melewati tiga dekade.

Sektor dapur pacu dan teknologi menjadi daya tarik utama yang membuat mobil ini dijuluki sebagai sedan tercanggih di kelasnya pada masa itu. Toyota menawarkan tiga pilihan mesin: unit 2E 1.300cc yang ekonomis untuk tipe SE, mesin 4A-F 1.600cc untuk SE Limited, serta mesin legendaris 4A-GE DOHC pada tipe GTi yang mampu memuntahkan tenaga hingga 140 hp. Selain keunggulan mesin, Corolla Twincam juga telah memanjakan pengemudinya dengan fitur-fitur modern yang mewah saat itu, seperti power steering dan power window. Meskipun sebagian besar unit di Indonesia menggunakan sistem karburator dan penggerak roda depan (FWD), keberadaan varian injeksi (EFI) dan ketersediaan transmisi otomatis semakin mempertegas posisi Corolla generasi keenam ini sebagai pelopor mobil harian yang bertenaga namun tetap nyaman.

Penutup


Perjalanan Toyota Corolla dari generasi pertama hingga keenam (1966–1991) membuktikan bahwa inovasi dan adaptasi adalah kunci utama umur panjang sebuah legenda otomotif. Dari era pionir mesin 1.100cc hingga kemunculan Corolla Twincam yang membawa standar teknologi modern, setiap model telah mengukir sejarah unik di Indonesia, mulai dari pesona retro Corolla DX hingga efisiensi penggerak roda depan pada Corolla GL. Transformasi desain dan transisi teknologi dalam enam generasi awal ini hanyalah fondasi dari kisah panjang sedan terlaris di dunia yang terus berevolusi. Jangan lewatkan kelanjutan evolusi sang legenda pada era "Great Corolla" dan generasi-generasi setelahnya dalam pembahasan bagian kedua yang tidak kalah menarik!

Terima kasih sudah berkunjung 😁

Selasa, 27 Oktober 2020

Mengenal RUF, Tuner Asal Jerman Spesialis Porsche

Mengenal RUF, Tuner Asal Jerman Spesialis Porsche

Mengenal RUF, Tuner Asal Jerman Spesialis Porsche
sumber : caranddriver.com

Jerman merupakan salah satu negara tempat lahirnya produsen mobil-mobil ternama, seperti Porsche, BMW, Volkswagen dan lain-lain. Karena Jerman memiliki banyak produsen mobil, tentunya tidak mengherankan jika di negara tersebut juga terdapat banyak tuner mobil.

Selain in-house tuner pabrikan, terdapat juga tuner yang bukan in-house pabrikan tetapi memiliki reputasi yang tidak kalah. Nah, pada kali ini penulis akan membahas salah satu tuner Jerman spesialis mobil Porsche yaitu RUF. Kenapa RUF? karena RUF merupakan salah satu tuner yang luar biasa, bahkan mereka pernah membuat mobil paling kencang di dunia.

Selanjutnya, bagaimana kisah tuner Jerman satu ini? yuk, kita bahas sejarah dan pencapaiannya di bawah ini.

Mengenal Ruf, Tuner Asal Jerman Spesialis Porsche


Awal Mula


Alois Ruf Jr.
sumber : carmagazine.co.uk

Awal mula berdirinya Ruf adalah dari sebuah bengkel kecil bernama "Auto Ruf" yang dibangun oleh Alois Ruf Sr. pada tahun 1939 di Plaffenhausen, Jerman. Beliau adalah seorang mekanik yang hobi merakit dari barang bekas. Pada tahun 1949 bengkel kecil tersebut berkembang menjadi sebuah pom bensin.

Pada tahun 1955 Ruf membangun bus travel dengan chassis Mercedes karena melihat peluang di tahun 1950-an banyak orang senang bepergian. Bus travel tersebut dipasarkan di Jerman dan responnya pun positif, berawal dari situ Ruf mengembangkan lagi bisnisnya dengan memiliki perusahaan bus sendiri.

Namun, yang menjadi awal kenapa RUF menjadi tuner Porsche yang hebat seperti sekarang adalah saat Alois Ruf Sr. membeli sebuah Porsche rusak. Mobil tersebut merupakan Porsche bekas kecelakaan lumayan parah yang diderek oleh Alois Ruf Sr. dan disimpan sementara di bengkelnya. Kemudian, pemilik mobil Porsche tersebut menawarkan mobilnya untuk dijual dan Alois Ruf Sr. pun setuju untuk membelinya.

Anak dari Alois Ruf Sr. yaitu Alois Ruf Jr. merupakan seorang "sports car enthusiast". Sehingga, pada tahun 1960 Alois Ruf Jr. mulai melakukan servis dan restorasi mobil Porsche di bengkel ayahnya. Kabar sedih datang di tahun 1974 yaitu Alois Ruf Sr. meninggal yang kemudiaan perusahaanya dilanjutkan oleh anaknya yaitu Alois Ruf Jr. yang baru berusia 24 tahun. Dibantu hanya dengan 3 orang karyawan Alois Ruf Jr. meneruskan perusahaan ayahnya dan fokus pada passionnya terhadap sports car pabrikan Porsche terutama yang model 911.

Pada tahun 1975, mobil Porsche pertama yang telah ditingkatkan performanya oleh RUF lahir. Selanjutnya tahun 1977, RUF kembali meningkatkan mobil Porsche yang mana kali ini adalah Porsche 930. Mobil tersebut mesinnya di stroke up menjadi 3.300cc dengan menggunakan piston yang lebih besar. Dan di tahun berikutnya yaitu 1978, Ruf berhasil meningkatkan mobil Porsche non-turbo pertama yang diberi nama Porsche 911 SCR. Pada dasarnya mobil tersebut adalah Porsche 911 N/A mesin 3.200cc yang ditingkatkan dan menghasilkan tenaga 217 HP. Hasilnya beberapa pelanggan banyak yang memesan model tersebut.
baca juga : Mengenal Mesin 2JZ, Mesin Favorit Para Penggila Kecepatan
Pada tahun 1981, Ruf kembali membuat gebrakan. Mereka sadar bahwa salah satu kekurangan Porsche 911 adalah gearboxnya yang hanya memiliki 4 percepatan. Melihat hal tersebut Ruf mengembangkan gearbox dengan 5 percepatan untuk memaksimalkan performa Porsche 911.

Lahirnya Mobil Terkencang Di Dunia


RUF CTR Yellowbird
sumber : caranddriver.com

Sejak diambil alih oleh anaknya, RUF pun berhasil membangun reputasi sebagai tuner spesialis Porsche yang handal. Makin kesini mobil-mobil yang dibangun RUF semakin sedikit menggunakan parts dari Porsche. Bahkan, pada beberapa mobil yang mereka bangun menggunakan parts hingga mesin yang mereka buat sendiri hanya chassisnya saja dari Porsche.

Oleh karena itu pada tahun 1981, Pemerintah Jerman memberikan izin dan menjadikan RUF sebagai pabrikan mobil yang sebelumnya hanya bengkel spesialis Porsche. Karena RUF sudah mendapatkan izin sebagai pabrikan mobil, sehingga mobil yang mereka buat dari nol memiliki VIN (Vehicle Identification Number) sendiri.

Pada tahun 1987 RUF mencatatkan mobilnya sebagai mobil terkencang di dunia. Mobil tersebut adalah RUF CTR (Grup C,Turbo, RUF) atau yang dikenal sebagai "Yellowbird". Mobil tersebut mengambil basis dari Porsche 911 Carrera 3.2. Untuk julukan "Yellowbird" merupakan pemberian dari media otomotif terkenal Road & Track yang mana pada saat itu sedang mencari mobil produksi terkencang di dunia.

Pencarian mereka pun berhenti setelah menemukan RUF CTR (Yellowbird). Mobil dengan tenaga 463 BHP dan torsi sebesar 553 Nm tersebut memiliki kecepatan maksimal 342 km/h!!. Dengan kecepatan seperti itu RUF CTR (Yellowbird) mengalahkan Ferrari Testarossa dan Lamborghini Countach. Tidak hanya itu RUF CTR (Yellowbird) juga berhasil mempermalukan Porsche 959, Ferrari F40, dan Mercedes AMG. Dapur pacu dibalik kencangnya RUF CTR (Yellowbird) adalah sebuah mesin Flat-Six 3.400cc Twin-Turbo buatan Ruf.

Ruf Yang Semakin Kencang


Ruf CTR2
sumber : reddit.com

Saat itu dalam memproduksi mobil berbasis Porsche, RUF hanya membuat 10-30 unit. Selain itu kebanyakan memakai mobil customer yang dimodifikasi sesuai standar pabrikan RUF. Hampir semua mobil Porsche bisa mereka modifikasi dan dari beberapa kategori RUF jauh lebih unggul ketimbang tuner Porsche terkenal lainnya seperti RWB atau Singer.

Pada tahun 1995, generasi kedua RUF CTR pun lahir dengan nama RUF CTR2 yang berbasis Porsche 911 seri 993. Tenaga yang dimiliki juga jauh lebih besar dari pendahulunya yaitu 572 BHP dan torsi sebesar 780 Nm. Tenaga tersebut berasal dari mesin Flat-Six 3.600cc Twin Turbo. Hasilnya RUF CTR2 memiliki top speed 350 km/h dan akselerasi 0-100 dapat ditempuh hanya dalam 3,8 detik saja. Hal tersebut membuat RUF CTR2 menjadi mobil "road legal" paling kencang dipertengahan 90-an hingga dikalahkan oleh Mclaren F1 pada tahun 1998.
baca juga : Mengenal BMW E46 M3 GTR, BMW M3 Pertama Dengan Mesin V8 Yang Sangat Langka
Tidak seperti pendahulunya yang menggunakan penggerak belakang, kali ini RUF CTR2 menggunakan sistem penggerak all-wheel drive. Spoiler RUF CTR2 juga unik, namun desain yang unik tersebut bukan hanya kosmetik semata melainkan memiliki fungsi penting. Fungsinya antara lain adalah untuk memberikan downforce agar mobil lebih stabil. Kemudian, air vent di dalam spoilernya berfungsi untuk mendinginkan mesin agar tidak kepanasan.

Mobil SUV Pertama


RUF Dakara
sumber : motor1.com

Pada tahun 2003 Porsche merilis mobil SUV pertama mereka dengan nama Porsche Cayenne. Melihat hal ini RUF pun merilis mobil SUV pertama mereka juga dengan basis Porsche Cayenne. Mobil SUV pertam RUF tersebut diberi nama Dakara.

Cara termudah untuk membedakan RUF Dakara dengan Porsche Cayenne adalah dari lampunya. RUF Dakara menggunakan lampu dari Porsche 911 seri 997. Selain lampu RUF Dakara juga memiliki bodykit yang dimodifikasi agar lebih aerodinamis. Untuk urusan performa RUF Dakara menggunakan mesin V8 4.500cc Twin-Turbo yang menyemburkan tenaga jauh lebih besar dari Porsche Cayenne yaitu 591 HP dan torsi 750Nm.

RUF CTR Paling Kencang Saat Ini


RUF CTR3 Clubsport
sumber : topgear.com

Pada tahun 2007 RUF merilis generasi ketiga dari lini CTR dengan nama RUF CTR3.Perilisan mobil tersebut bertepatan dengan ulang tahun ke-20 rilisnya RUF CTR pertama dan pembukaan pabrik RUF di Bahrain. RUF CTR3 berbasiskan Porsche Cayman dengan body yang didesain oleh RUF. Tidak seperti RUF CTR2 yang menggunakan sistem penggerak all-wheel drive. Pada generasi ketiga ini sistem penggerak yang digunakan adalah rear wheel drive.

Dapur pacu dari RUF CTR3 adalah sebuah mesin Flat-Six berkapasitas 3.700cc Twin Turbo. Mesin tersebut menghasilkan tenaga 682 BHP dan torsi 890 Nm. Top Speed yang dicapai oleh RUF CTR3 adalah 375 km/h, jauh lebih cepat dari pendahulunya.

Pada tahun 2012 di event Geneva Motor Show, RUF merilis CTR3 Clubsport. Varian tersebut adalah versi upgrade dari RUF CTR3 standard. Meski kapasitas mesinnya sama dengan RUF CTR3 Standard, mesin versi clubsport mendapatkan modifikasi. Sehingga, tenaga yang dihasilkan lebih besar yaitu 766 BHP dan torsi 980 Nm. Top speednya pun bertambah menjadi 380 km/h.

Penutup


Mungkin beberapa dari kalian menganggap bahwa RUF tidaklah original karena mengambil basis dari mobil pabrikan lain. Namun, perlu kalian ingat dalam ideologi RUF benar-benar kental tertanam pada mobil yang mereka buat. Oleh karena itu meski terlihat sama dengan mobil Porsche tetapi DNA yang dimiliki adalah milik RUF. Cara mereka memaksimalkan teknologi turbo sungguh luar biasa. Sehingga, tidak mengherankan mobil buatan RUF benar-benar kencang dengan mampu mengeluarkan potensi Turbo dengan baik.

Terima kasih sudah berkunjung 😁

Senin, 07 September 2020

Mengenal Nissan Silvia 270R Nismo, Tipe Nissan Silvia Paling Langka Yang pernah Ada

Mengenal Nissan Silvia 270R Nismo, Tipe Nissan Silvia Paling Langka Yang pernah Ada

Mengenal Nissan Silvia 270R Nismo, Tipe Nissan Silvia Paling Langka Yang pernah Ada
sumber : carsguide.com.au

Nissan Silvia adalah salah satu lini mobil sport andalan Nissan yang tidak kalah terkenal dengan lini andalan nissan lainya seperti Skyline atau Fairlady Z. Lini Nissan Silvia identik dengan sebuah mobil sport yang berukuran kompak, affordable dan menggunakan sistem penggerak roda belakang.

Kepopuleran Nissan Silvia juga dibantu dengan semakin meningkatnya trend balapan drifting. S-Platform yang diusung Nissan Silvia ditambah sistem penggerak roda belakang membuatnya enak buat drifting. Nah, kali ini yang mau penulis bahas adalah tipe Nissan Silvia paling langka di dunia. Tipe apakah Nissan SIlvia tersebut? dan mengapa bisa langka? daripada penasaran yuk lanjut baca pembahasannya di bawah ini.

Mengenal Nissan Silvia 270R Nismo, Tipe Nissan Silvia Paling Langka Yang Pernah Ada


Sejarah


Nissan Silvia 270R Nismo Back
sumber : carsguide.com.au

Nissan Silvia pertama kali diluncurkan pada tahun 1965, namun pada saat itu belum menggunakan S-Platform yang terkenal akan keseimbangannya. S-Platform mulai digunakan pada tahun 1975 oleh Nissan Silvia S10 dan terus digunakan hingga Nissan S15.

Dari semua Nissan Silvia yang pernah dirilis, Nissan Silvia S13 hingga S15 lah yang populer. Hal tersebut tak terlepas dari banyak yang menggunakan tipe tersebut untuk drifting. Namun, terdapat satu tipe Nissan Silvia yang sangat langka yaitu Nissan Silvia 270R Nismo yang berbasis Nissan Silvia S14. Kenapa langka? karena hanya diproduksi sebanyak 50 unit saja.

Kelahiran Nissan Silvia 270R Nismo bukanlah tanpa alasan. Pada tahun 1994 saat Nissan Silvia S14 dirilis, banyak pembeli yang tidak puas. Hal tersebut dikarenakan S14 memiliki suspensi yang empuk seperti spons dan sistem pengereman yang kurang baik. Mendengar hal tersebut Nissan langsung bergerak cepat dengan memasukkannya ke in-house tuner mereka yaitu NISMO.
NISMO sukses memperbaiki hampir semua kekurangan yang dimiliki Nissan Silvia S14. Nismo pun memberikan nama 270R dikarenakan Silvia tersebut mampu menghasilkan tenaga sebasar 270HP. Perubahan yang dilakukan oleh NISMO tetap menganut konsep efisiensi dan nilai ekonomis tanpa mengorbankan keseimbangan yang luar biasa dari S-Platform.

Nissan Silvia 270R memiliki karakter performance yang siap turun untuk kompetisi. Sangat berbeda dengan Nissan Silvia S14 yang lebih terlihat daily-use. Lahirnya Nissan Silvia 270R Nismo juga sebagai perayaan 10 tahun NISMO. Jadi bisa dibilang mobil ini benar-benar langka dan spesial. Meski Nissan Silvia 270R NISMO hanya diproduksi 50 unit, tetapi NISMO menjual bodykit 270R secara bebas. Sehingga, pemiliki Nissan Silvia S14 bisa merubah tampilan mobilnya menjadi seperti Nissan Silvia 270R NISMO.

Performa


Nissan Silvia 270R Nismo Turbo Gauge
sumber : carsguide.com.au

Sesuai namanya Nissan Silvia 270R NISMO menggunakan parts dari NISMO. Parts tersebut mulai dari interior, eksterior, mesin, kaki-kaki dan lain-lain. Pada bagian mesin parts yang digunakan, seperti engine cover biru tua, Camshaft Nismo. Selain itu parts yang dipakai adalah Tower Bar Nismo, brake Stopper Nismo, Pipa-pipa dan Intercooler Nismo, Air Cleaner Nismo, dan lain-lain. Berkat NISMO suspensinya pun jadi lebih stabil dan sistem pengereman jauh lebih baik.

Berkat sentuhan NISMO pada mesin SR20 membuat Nissan Silvia S14 mendapatkan peningkatan tenaga yang signifikan. Nissan Silvia S14 semula memiliki tenaga 217HP menjadi 270HP. Sebuah angka yang menjadi alasan kenapa mobilnya berubah nama menjadi Nissan Silvia 270R NISMO.

Interior dan Eksterior


Nissan Silvia 270R Nismo Interior
sumber : carsguide.com.au

Pada bagian interior, elemen sentuhan NISMO benar-benar terasa karena ada di mana-mana. Jok depan dan belakang sudah diganti menggunakan buatan NISMO dengan motif yang keren serta tulisan NISMO. Setir bawaan yang besar dan memiliki airbag telah diganti dengan setir racing NISMO tanpa airbag. Speedometer juga sudah diganti dengan versi 300 km/h ditambah boost gauge yang diletakkan di panel pintu pengemudi. Tidak hanya itu NISMO juga memberikan cut off switch untuk mematikan mesin saat kondisi darurat. Selain itu penambahan cut switch off juga menambah kesan mobil balap karena hampir semua mobil balap menggunakannya.

Nissan Silvia 270R Nismo Eksterior
sumber : supercars.net

Pada bagian eksterior, Nissan Silvia 270R NISMO menggunakan bodykit dari NISMO. Jika kalian lihat dari depan bumper depannya lebih meng-kotak. Desain tersebut terinspirasi dari mobil-mobil DTM tahun 1994. Desain ini juga dikatakan untuk mengurangi daya angkat aerodinamis bagian depan mobil. Pada bagian bumper depan juga terdapat ventilasi di bagian pinggir untuk mendinginkan rem. Pada bagiam side skirt belakang juga dilengkapi ventilasi yang bertujuan untuk mendinginkan rem menggunakan aliran udara.

Penutup

Nah, itu tadi pengenalan singkat mengenai mobil Silvia paling langka. Namun, karena bodykitnya di jual bebas banyak pemilik Silvia S14 meng-convert tampilannya menjadi seperti Silvia 270R Nismo. Jadi, jika kalian kebetulan lihat Nissan Silvia 270R NISMO jangan heboh dulu siapa tahu itu cuma S14 yang pakai bodykit hehe

Terima kasih sudah berkunjung 😁

Kamis, 30 April 2020

Mengenal Ford GT90, Suksesor Ford GT40 Yang Tidak Pernah Diproduksi

Mengenal Ford GT90, Suksesor Ford GT40 Yang Tidak Pernah Diproduksi

Mengenal Ford GT90, Suksesor Ford GT40 Yang Tidak Pernah Diproduksi
sumber : conceptcarz.com

Nama Ford dalam dunia otomotif sangatlah terkenal di seluruh dunia. Hal itu memang dikarenakan mobilnya yang berkualitas dan sering memenangkan berbagai kejuaraan. Mengingat salah satu mobil legendaris mereka yaitu Ford GT40 yang mampu mendominasi endurance racing pada tahun 1960-an. Ford pun membuat suksesornya dengan nama Ford GT90.

Mengenal Ford GT90, Suksesor Ford GT40 Yang Tidak Pernah Diproduksi


Pada Bulan Januari 1995 tepatnya pada pameran Detroit Auto Show, Ford memamerkan sebuah mobil konsep dengan nama Ford GT90. Pada pameran tersebut Ford GT90 mendapatkan  label "world's mightiest supercar" karena memiliki teknologi tercanggih pada saat itu.

Hal tersebut tidaklah mengherankan karena Ford GT90 memang diplot untuk menjadi suksesor Ford GT40 yang legendaris. Selain sebagai suksesor Ford GT40 yang legendaris, Ford GT90 juga merupakan sebuah test bed untuk teknologi, konsep teknis dan desain, serta fitur yang berorientasi pada pengemudi yang kedepannya akan digunakan pada mobil Ford lainnya.

Ford GT90 juga merupakan mobil pertama yang menggunakan konsep desain "New Edge" yang kemudian juga digunakan pada mobil-mobil Ford selanjutnya seperti Ford Focus, Mustang dan Falcon. Hal tersebut semakin membuat Ford GT90 semakin spesial.

Waktu Yang Singkat Bukan Hambatan Untuk Menciptakan "Monster"


Ford GT90 Back
sumber : conceptcarz.com

Ford GT90 dibuat oleh sebuah grup kecil khusus di Ford SVT (Special Vehicle Team) hanya dalam kurun waktu enam bulan. Sebuah waktu yang sangat singkat untuk menciptakan sebuah supercar. Karena waktunya terlalu singkat, sehingga tim yang membuatnya menggunakan beberapa parts dari Jaguar untuk menghemat waktu. Sebagi informasi pada saat itu Jaguar masih menjadi milik Ford jadi sah-sah saja menggunakan partsnya. Selain waktu yang sangat singkat pembuatan Ford GT90 juga memakan biaya sekitar 3 juta US Dollar.

Eksterior dan Interior


Ford GT90 Side
sumber : conceptcarz.com

Ford GT90 hadir dengan warna putih cerah. Menganut konsep desain "New Edge" posisi kabin Ford GT90 menjadi lebih ke depan dan memiliki kap mesin yang pendek. Wheelbase yang dimilikinya juga panjang yaitu 2.946 mm. Konsep desain "New Edge" benar-benar membuat Ford GT90 terlihat hi-tech dan futuristik.

Panel bodi Ford GT90 terbuat dari bahan serat karbon dan chassis alumunium monocoque yang membentuk honey-comb. Pintu Ford GT90 juga canggih karena bisa dioperasikan secara elektronik,. Selain itu bagian kabinnya pun luas tidak seperti supercar 90-an yang umumnya memiliki kabin yang sempit.

Ford GT90 Interior
sumber : conceptcarz.com

Masuk ke Interior, Ford GT90 didominasi oleh warna biru cerah yang dilapisi oleh kombinasi bahan kulit dan suede. Model open-gated shifternya yang berwarna silver ditambah alumunium linkage yang terhubung ke konsol tengah terlihat keren dan sporty.

Pada bagian konsol tengah terbuat dari bahan serat karbon dan memiliki detail berwarna silver dan terbuat dari alumunium. Desain panel instrumen customnya pun tak kalah keren yang mana diletakkan di depan setir dan tambahan di pintu pengemudi. Agar tidak terlihat monoton detail setiga warna kuning yang terdapat pada setir terlihat sempurna sebagai pemanis.

Performa


Ford GT90 V12 Engine
sumber : conceptcarz.com

Performa Ford GT90 sangat luar biasa tinggi. Ford GT90 menggunakan mesin berkapasitas 6.000cc 12 silinder V12 yang merupakan penggabungan dari 2 mesin V8 Lincoln. Tidak cukup sampai disitu agar semakin bertenaga mesin V12 tersebut dibekali turbo Garrett Systems T2 sebanyak 4 unit. Sehingga tenaga yang dihasilkan adalah 720 HP dan torsi 895 Nm.

Tenaga yang besar tersebut di salurkan ke roda belakang mengingat Ford GT90 memiliki layout MR ( Mid Engine, Rear Wheel Drive). Penyaluran tenaga ke roda belakang melalui gearbox FFD-Ricardo five-speed manual transmission yang diambil dari Jaguar XJ220.
baca juga : Car Engineering - Mengenal Jenis Mesin Mobil Berdasarkan Konfigurasinya
Hasilnya Top speed mencapai 407 km/h dan akselerasi dari 0-100 km/h dapat dicapai hanya dalam 3,1 detik. Nah, untuk mengimbangi tenaga yang besar tersebut Ford GT90 menggunakan double wishbone suspension yang lagi-lagi diambil dari Jaguar XJ220 karena memiliki handling yang baik pada kecepatan tinggi.

Sayangnya "Monster" Tersebut Tak Pernah Diproduksi


Ford GT90 Front
sumber : conceptcarz.com

Padahal konsep Ford GT90 sudah dipamerkan dan cukup pantas bila menjadi suksesor Ford GT40. Namun, entah kenapa Ford tidak pernah memproduksinya mereka justru menjadikan Ford GT yang diproduksi tahun 2004 sebagai suksesor Ford GT40.
Karena hanya ada satu di dunia dan itu pun masih berupa konsep. Hingga saat ini keberadaan mobil tersebut masih belum jelas. Terakhir, terlihat Ford GT90 pernah masuk lelang melalui RM auction pada tahun 2009.

Penutup

Baiklah, itu tadi perkenalan Ford GT90 sebuah mobil konsep yang entah kenapa tidak pernah diproduksi padahal sangat menjanjikan. Selain menjanjikan patut diingat bahwa Ford GT90 pernah mendapatkan label "world's mightiest supercar" pada saat dipamerkan di Detroit Auto Show. Mungkin Ford punya pertimbangan khusus kenapa tidak pernah memproduksinya.

Terima kasih sudah berkunjung 😁